Filosofi Stoik: Sejarah, Jenis, dan Nilai Yang Dapat Kamu Terapkan

Pernahkah kamu merasa stress karena beban hidup yang terlalu berat? Kamu mencoba mengendalikan semua elemen yang ada di hidupmu, karena kamu pikir itu yang bisa membuatmu tenang? Dan pada akhirnya bukan ketenangan yang kamu dapat, tapi semakin banyak beban yang menghampiri? Kalau itu yang kamu rasakan, Stoikisme bisa menjadi penyelamatmu.

Sebuah filosofi yang sudah berkembang sejak ribuan tahun lalu, Stoikisme sudah membantu kehidupan banyak orang mulai dari raja, budak, pebisnis, investor, sampai penulis. Seolah tidak lengkang oleh waktu, tidak memandang kasta, dan tidak terbatas wilayah, Stoikisme sudah menyebar dan membantu orang dari hampir seluruh penjuru dunia.

Lalu, apa sebenarnya Filosofi Stoik itu? Dari mana asalnya? Dan apa dampak yang bisa diberikannya bagi hidupmu?

Stoikisme adalah?

Filosofi Stoik atau Stoikisme sudah ada sejak sekitar 300 tahun sebelum masehi dari tempat yang mungkin sudah bisa kamu tebak asalnya, Atena.

Filosofi Stoik adalah sebuah filosofi yang mengajarkan bagaimana sikap tabah dalam menghadapi musibah, bagaimana kita dapat melewati hari dengan lebih bermakna, dan bagaimana kita dapat melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda. Filosofi Stoik berpusat pada satu hal: memusatkan perhatian dan energi kepada hal yang ada dalam kendalimu, dan lepaskan sisanya.

Filosofi Stoik dalam perjalanannya sudah membantu banyak orang di zaman modern, berikut adalah beberapa cerita yang paling terkenal:

  1.     Kolonel James Stockdale

Seorang anggota US Navy yang dapat bertahan selama lebih dari 7 tahun menjadi tahanan perang Vietnam akibat sebuah buku yang berjudul “Discourses”, sebuah kumpulan ajaran dari salah satu filsuf Stoik paling terkenal, Epictetus.

  1.     Nelson Mandella

Seorang Presiden Afrika Selatan yang membebaskan bangsa kulit hitam dari diskriminasi. Salah satu buku yang membuat beliau bisa tetap waras dan bertahan selama dipenjara lebih dari 20 tahun adalah, “Meditations” yang merupakan kumpulan jurnal yang ditulis oleh Marcus Eurelius, satu dari lima pemimpin besar Roma yang juga merupakan filsuf Stoik.

  1.     Thomas Jefferson

Salah seorang bapak pendiri negara Amerika, yang ditemukan memegang buku yang berisi ajaran dari Seneca saat beliau meninggal.

Masih banyak lagi orang-orang besar dunia mulai dari pemimpin negara, atlit, musisi, actor, sampai penulis yang bersaksi bahwa filsafat Stoik adalah salah satu hal terpenting yang sudah membawa mereka kepada kesuksesan yang mereka miliki sekarang. Hal ini membuktikan bahwa filosofi Stoik merupakan filosofi yang sangat inklusif dan dapat diterapkan oleh siapa saja dan dimana saja.

Asal mula Filosofi Stoik

300 Tahun sebelum masehi, seorang saudagar kaya bernama Zeno berlayar di dekat Atena dan secara tidak sengaja kapalnya menabrak bebatuan. Kapalnya karam dan seluruh harta benda milik Zeno ikut tenggelam bersama kapalnya.

Sedih, putus asa, dan tidak tahu harus melakukan apa, Zeno datang ke sebuah toko buku dan menemukan sebuah ajaran dari Socrates. Terkesima dengan apa yang Ia temukan, Zeno bertanya kepada pemilik toko buku tersebut, dimana Ia dapat bertemu dengan orang seperti penulis buku tersebut.

Takdir baik berpihak kepadanya, dimana pada zaman itu, para filsuf ternama masih hidup di Atena. Ia akhirnya menemukan Crates yang sedang berjalan di dekat toko buku tempat Ia “terdampar” dan akhirnya menjadi muridnya.

Tidak lama sampai akhirnya Zeno mulai mengajarkan filosofinya sendiri. Orang-orang yang belajar dari Zeno berkumpul di sebuah teras bangunan tua, bernama Stoa Poikile. Dari sanalah nama Stoikisme diambil, sebuah filosofi yang diajarkan di teras, filosofi teras atau Stoicism.

Tokoh-tokoh besar filosofi Stoik

Sejak saat itu, banyak tokoh sejarah yang mengembangkan filosofi ini, baik belajar secara langsung dari penerus Zeno, ataupun mengembangkannya sendiri dengan nilai-nilai yang sama dengan yang diajarkan filsafat Stoik.

Mulai dari seorang raja (Marcus Aurelius), budak (Epictetus) sampai penasihat dan penulis (Seneca) memiliki ajarannya sendiri tentang filosofi Stoik. Keberagaman sudut pandang dan ajaran inilah yang membuat filosofi stoik menjadi semakin mudah diterima oleh banyak orang.

Berikut adalah sedikit pelajaran yang dapat kamu ambil dari tokoh-tokoh di atas:

  1.       Marcus Aurelius

“Kalau kamu memilih untuk tidak dapat disakiti, maka kamu tidak akan dapat disakiti. Jangan merasa disakiti, maka kamu belum disakiti.”

Mungkin agak membingungkan, namun yang Marcus maksudkan adalah apapun yang orang lain lakukan tidak ada di dalam kendali kita. Yang dapat kita kendalikan hanyalah persepsi kita dan apa yang kita pilih untuk rasakan.

Mau seberapa kuat orang mencoba menyakitimu, kalau kamu memilih untuk tidak merasa disakiti, maka orang tersebut sama sekali tidak menyakitimu.

  1.       Epictetus

”Selalu harapkan yang terburuk.”

Yang Epictetus maksud di sini bukanlah negative thinking, melainkan kita harus selalu mengetahui apa hal terburuk yang mungkin terjadi dari setiap kondisi. Dengan begitu, kita dapat mempersiapkan diri kita dan rencana kita jika hal tersebut terjadi.

  1.       Seneca

Ajaran Seneca yang paling terkenal berasal dari sekumpulan surat yang Ia kirim ke temannya, Lucilius. Salah satu surat itu berbunyi:

“Justru di saat kita merasa tidak perlu khawatir, kita harus menguatkan diri untuk tekanan yang lebih berat, karena walaupun keberuntungan itu baik, Ia harus menguatkan diri dari kekejamannya.”

Yang dimaksud oleh Seneca adalah kesulitan itu akan selalu ada, dan justru di saat kita sedang lengah dan merasa beruntunglah kesulitan dapat menghantam kita dengan lebih keras. Karena itu, di saat kita memiliki waktu untuk bisa tenang, itulah kesempatan kita untuk menguatkan dan mempersiapkan diri untuk kesulitan apapun yang akan menghantam kita di masa depan.

Jika diperhatikan, semua ajaran di atas berpacu kepada satu hal: berfokus pada apa yang bisa kita kendalikan, dan sisanya tidak usah dipikirkan. Baru, setelah kita mengatahui apa yang bisa kita kendalikan (pikiran, energi, dan pilihan kita), ada 4 kebajikan dari filosofi stoik yang bisa menjadi acuan bagi kita untuk memilih tindakan kita selanjutnya, yaitu: kebijaksanaan, keberanian, ketenangan, dan keadilan.

4 Kebajikan Filosofi Stoik

Kebijaksanaan

Kebajikan ini mengajarkanmu untuk memilih pilihan yang paling benar, apa yang betul-betul baik untuk dilakukan, bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan bagi moral yang berlaku di khalayak umum.

Keberanian

Kebajikan ini mengajarkan bahwa kita harus memiliki keberanian untuk melakukan apa yang benar, keberanian untuk menghadapi segala hal yang ada di hadapan kita, dan bahwa yang harus kita takutkan adalah ketakutan itu sendiri.

Ketenangan

Kebajikan ini mengajarkan kita untuk selalu bertindak dan merespon segala sesuatu dengan tenang dan tidak berlebihan. Bukan hanya menghadapi kondisi buruk, melainkan juga kondisi baik.

Keadilan

Kebajiakan ini mengajarkanmu untuk bertindak adil bagi setiap orang, bahkan setiap makhluk hidup yang ada.

Keempat kebajikan inilah yang dapat kamu jadikan acuan dalam setiap keadaan dimana kamu harus membuat keputusan. Apakah keputusan yang akan kamu ambil menjunjung tinggi dan mematuhi prinsip kebijaksanaan, keberanian, ketenangan, dan keadilan? Jika tidak, maka jangan lakukan dan ambil pilihan yang lain.

Kesimpulan

Stoikisme merupakan filosofi kuno yang sudah sangat teruji kemujarabannya dalam setiap kondisi, dari mulai yang kondisi sulit, sampai mudah dari mulai peperangan sampai perdamaian, dari mulai perbudakan, sampai kemakmuran; Filosofi Stoik sudah terbukti membuat orang yang menjalankannya memiliki hidup penuh makna dan penuh kedamaian di dalam diri.

Sekarang kembali lagi ke dirimu sendiri, pilihan ada di tanganmu, untuk mendalaminya atau membiarkan ajaran ini hanya menjadi bacaan yang lewat begitu saja. Karena pilihanmu, tidak ada di dalam kendaliku.

Leave a Comment