Gaya Hidup Workaholic: Ilusi Produktivitas Yang Perlu Diwaspadai

Bekerja dengan sepenuh hati itu harus, memberikan lebih dari yang diharapkan itu baik, tetapi jika kamu bekerja berlebihan sampai tidak memikirkan hal lain dalam hidupmu, maka bekerja sudah menjadi tidak baik dan itu artinya kamu memiliki gaya hidup workaholic.

Apa itu gaya hidup workaholic?

Kata workaholic pertama kali dipopulerkan oleh seorang psikolog bernama Wayne Oats, dimana Ia mengartikan kecenderungan workaholic sebagai “dorongan atau keinginan yang tidak terkontrol untuk terus bekerja tanpa henti.”

Workaholic secara umum dapat diartikan sebagai kondisi dimana seseorang terus bekerja tanpa memikirkan hal lain dan seolah pekerjaan adalah hidupnya.

Dari penjelasan di atas, perlu digaris bawahi, bahwa seseorang yang workaholic bukan hanya bekerja dalam waktu lama. Waktu tidak menjadi faktor utama di sini, melainkan bekerja secara berlebihan tanpa memperdulikan konseskuensinya.

Ciri-ciri seorang workaholic

Berikut adalah beberapa ciri-ciri seseorang dengan gaya hidup workaholic yang perlu kamu waspadai:

  1.       Memiliki dorongan dari dalam diri untuk terus bekerja tanpa alasan yang jelas
  2.       Merasa bersalah dan gelisah ketika dirinya tidak sedang bekerja walaupun pekerjaan sudah selesai
  3.       Bekerja jauh melebihi yang dibutuhkan tanpa tujuan yang jelas
  4.       Dirinya bekerja bukan untuk menyelesaikan pekerjaan, melainkan untuk mengurangi dan menghilangkan rasa bersalah yang terus ia rasakan ketika tidak bekerja
  5.       Ia membenci kegiatan yang tidak produktif yang menurutmu tidak ada hubunganya sama sekali dengan pekerjaan
  6.       Tidak lagi memperdulikan hubungannya dengan keluarga atau orang lain, karena yang terpenting adalah pekerjaannya.
  7.       Ia juga tidak memperdulikan kesehatannya sendiri.

Karena ciri-ciri yang cukup ekstrim di ataslah, gaya hidup workaholic sudah dianggap sebagai suatu adiksi yang berbahaya.

Sebab terbentuknya seorang workaholic

Di zaman yang serba cepat ini, jumlah pengidap workaholic pun semakin banyak. Selain akibat dari “hustle culture” yang semakin meraja lela, social media juga berperan besar dalam peningkatan persaingan gaya hidup setiap individu yang mendorong setiap orang untuk bekerja lebih keras.

Budaya dan pergaulan tentu memiliki perannya masing-masing dalam membentuk gaya hidup workaholic, namun semua faktor itu dapat dikelompokkan menjadi 3 faktor utama dari pembentukan gaya hidup workaholic:

1. Kondisi psikologis

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh NLM (National Library of Medicine), ditemukan bahwa seseorang yang memiliki kecenderungan workaholic memiliki penilaian yang sangat rendah terhadap dirinya sendiri, terus merasa bersalah baik di rumah maupun saat bekerja, dan Ia bekerja untuk menutupi segala hal buruk yang menimpa pikiran dan perasaannya.

Selain itu, seorang workaholic biasanya menjadikan pekerjaannya sebagai identitas dirinya, sehingga Ia rela mengorbankan segala hal demi pekerjaannya.

2. Workaholic dididik oleh workaholic

Alasan lain terbentuknya gaya hidup workaholic adalah dirinya dididik oleh orang tua yang juga menjadikan pekerjaan sebagai kepentingan utamanya. Sedari kecil dirinya melihat dan pekerjaan harus menjadi yang utama dan itu bisa menjadi cara utama untuk mendapatkan pengakuan dari keluarganya, serta membuat keluarganya bahagia.

Sayangnya mungkin dirinya melupakan bahwa zaman dan cara orang tuanya bekerja tentu sudah berbeda dengan zaman saat dirinya bekerja. Tetapi apa yang sudah tertanam di dalam pikirannya sudah sulit dihilangkan.

3. Kondisi keluarga tidak baik

Selain itu, ada juga yang memiliki gaya hidup workaholic karena menghindari keluarganya. Dirinya merasa tidak mendapatkan pengakuan dan kebahagiaan yang Ia harapakan dari keluarganya dan mendapatkannya saat Ia bekerja.

Hal ini menimbulkan sebuah kecanduan terhadap pekerjaannya dan membuat dirinya menjadi seorang workaholic.

Dampak buruk gaya hidup workaholic

Menjadi workaholic, sama seperti jenis-jenis adikisi lainnya, tentu memiliki banyak dampak buruk terhadap kesehatan fisik dan juga mental kita. Dampak buruk tersebut antara lain adalah:

1. Menambah tekanan bekerja

Walaupun seorang workaholic terkadang menemukan kepuasan saat ia bekerja dan ketakutan serta kegelisahan saat ia tidak melakukannya. Hal ini justru menyebabkan tekanan yang berlebih terhadap pekerjaannya.

Di dalam pikirannya pekerjaan merupakan hal yang utama, walaupun Ia sudah tahu bahwa Ia sudah melewati batas kesehatan dan kekuatannya, Ia merasa jika tidak bekerja, maka segalanya akan berakhir.

Bayangkan saja dirimu bekerja dalam kondisi seperti itu, bukannya semakin semangat, justru akan semakin tertekan.

2. Menurunnya kesehatan

Tentu saja, akibat tidak pernah memperhatikan hal lain selain pekerjaan, kesehatan akan semakin menurun.

Seorang workaholic biasanya akan lupa makan, kurang minum, tidak pernah berolahraga, dan kemungkinan besar akan terlalu banyak mengonsumsi kafein. Tentunya semua hal ini akan berakumulasi dan menyebabkan penurunan kesehatan yang cukup drastis.

3. Kehilangan identitas diri

Bagi seorang workaholic, pekerjaan adalah hidup dan tidak ada hal lain yang penting lagi bagi dirinya. Ia menjadikan pekerjaannya sebagai identitas dirinya, yang justru membuat Ia semakin terjerembab ke dalam kegilaannya dalam bekerja.

Sebuah siklus yang mematikan.

4. Menyebabkan burnout

Bekerja terlalu lama di bawah tekanan yang tinggi, tanpa memikirkan kesehatan ataupun hubungan dengan orang lain. Tentu hal ini akan mendorong seseorang ke dalam kondisi burn out.

Baca: [burnout]()

5. Merusak hubungan dengan orang terdekat

Seorang workaholic hanya memiliki 2 pilihan dalam berhubungan dengan keluarganya: 1)tidak punya waktu sama sekali, dan 2) menghabiskan waktu sambil terus memikirkan pekerjaan.

Seorang workaholic akan terus merasa bersalah ketika Ia tidak mendedikasikan waktunya untuk bekerja. Sehingga walaupun diri sedang menghabiskan waktu bersama keluarga, dirinya tidak akan tenang, terus merasa bersalah, dan justru akan tetap memikirkan pekerjaannya.

6. Menurunkan kualitas pekerjaan

Akibat semua tekanan yang menumpuk, kesehatan yang menurun, dan pikiran yang tidak lagi dapat bekerja dengan baik, tentu pekerjaanpun akan terganggu. Menjadi seorang workaholic bukannya memberikan hasil yang baik dan cepat, tapi justru dapat mengganggu pekerjaan kantor dengan hasil yang buruk.

Kesimpulan

Gaya hidup workaholic merupakan salah satu jenis adiksi yang berbahaya. Tidak ada hal baik yang bisa didapat dari sesuatu yang berlebihan, tentunya termasuk bekerja.

Kondisi ini tidak bisa kamu anggap remeh. Orang yang sudah cenderung memiliki gaya hidup workaholic tidak menyadarinya dan akan semakin parah. Bantuan orang-orang sekitar dan juga tenaga ahli sangat dibutuhkan agar dirinya dapat terbebas dari adiksi tersebut.

Jangan sampai kondisinya dibiarkan terus berputar dalam siklus mematikan yang membuatnya semakin parah dan membahayakan bagi dirinya dan orang-orang di sekitarnya.

Leave a Comment